Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut langsung memicu kepanikan di pasar global karena investor khawatir perang akan meluas dan mengganggu stabilitas energi dunia, khususnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi internasional.
Serangan tersebut memicu reaksi negatif di hampir seluruh bursa saham dunia dalam tiga hari perdagangan setelah kejadian. Pasar memasuki fase risk-off, yaitu kondisi ketika investor cenderung keluar dari aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS. Bursa saham Asia menjadi salah satu yang paling terdampak karena kawasan Asia sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Pada hari pertama setelah serangan, indeks saham utama Asia langsung dibuka melemah tajam. Indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 1 persen, sementara pasar Australia dan Hong Kong juga mengalami tekanan signifikan. Investor khawatir konflik akan memicu lonjakan harga minyak dan memperburuk inflasi global yang sebelumnya belum sepenuhnya stabil.
Dampak paling besar terlihat pada sektor energi dan komoditas. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 8 hingga 10 persen hanya dalam waktu singkat karena pasar khawatir Iran akan menutup Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kondisi tersebut membuat saham-saham berbasis energi dan komoditas relatif lebih bertahan dibanding sektor teknologi dan keuangan yang mengalami tekanan besar.
Di Amerika Serikat, Wall Street juga mengalami volatilitas tinggi selama tiga hari perdagangan. Investor mulai mengurangi eksposur pada saham teknologi dan beralih ke sektor defensif seperti utilitas, energi, dan kesehatan. Ketidakpastian mengenai durasi perang membuat pasar cenderung bergerak fluktuatif dengan tekanan jual yang cukup besar.
Sementara itu di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut terdampak sentimen global. Investor asing melakukan aksi jual pada sejumlah saham perbankan dan saham berbasis konsumsi karena khawatir pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi akan menekan ekonomi domestik. Namun tekanan IHSG sedikit tertahan oleh penguatan saham komoditas seperti batu bara dan energi yang diuntungkan dari lonjakan harga minyak dunia.
Selain pasar saham, aset safe haven seperti emas mengalami kenaikan tajam. Harga emas global melonjak lebih dari 2 persen karena investor mencari instrumen yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik. Dolar AS juga menguat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.
Selama tiga hari setelah serangan, pasar global cenderung bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan perang. Setiap pernyataan dari pemerintah AS, Israel, maupun Iran langsung memengaruhi pergerakan indeks saham dan harga energi dunia. Investor juga mulai memperhatikan kemungkinan dampak jangka panjang terhadap inflasi global, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi dunia apabila konflik berlangsung lebih lama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa geopolitik masih menjadi salah satu faktor utama yang mampu mengguncang pasar keuangan global dalam waktu singkat. Konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga memengaruhi pasar saham, harga energi, nilai tukar mata uang, hingga stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.





