Baru baru ini ada statement yang terdengar renyah di telinga masyarakat negeri ini yaitu
perihal dollar dan rupiah, angka yang cukup tinggi untuk per 1 dolar AS senilai Rp. 17.670
tentu bukan pandangan nominal yang sedikit untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.
Kenaikan harga dollar tentu sangat mempengaruhi terhadap ekonomi perdagangan di
Indonesia, mengapa demikian karena dalam kurun beberapa waktu terakhir AS memiliki
kendali yang cukup tinggi di pasar dunia. Hal tersebut berpengaruh terhadap apa yang di impor
Negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia biasa kita sebut dengan Imported
inflation.
Imported inflation adalah kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri yang terjadi
karena pengaruh dari luar negeri, misalnya harga barang impor naik atau nilai tukar rupiah
melemah terhadap mata uang asing. Akibatnya, biaya impor menjadi lebih mahal sehingga
harga barang dan jasa di dalam negeri ikut meningkat.
Imported inflation bisa terjadi saat negara lain mengalami inflasi. Kondisi ini membuat
nilai mata uang mereka melemah di pasar valuta asing sehingga harga barang dari negara
tersebut menjadi lebih mahal. Ketika importir dalam negeri membeli barang impor, terutama
dari luar negeri, hal ini dapat memicu kenaikan harga di dalam negeri.

Selain itu, importir perlu mengeluarkan biaya yang lebih besar, apalagi jika barang yang
dibeli berupa bahan baku produksi. Akibatnya, biaya produksi perusahaan ikut meningkat. Jika
biaya produksi naik, perusahaan biasanya akan menaikkan harga jual produknya kepada
konsumen.
Salah satu produk impor yang sering menjadi penyebab imported inflation adalah
minyak. Saat harga minyak naik, biaya operasional berbagai sektor usaha juga ikut meningkat,
mulai dari industri produksi, listrik, sampai manufaktur. Apalagi jika tidak ada bantuan subsidi
dari pemerintah, kenaikan harga tersebut biasanya akan terus berdampak hingga harga barang
yang dibayar konsumen menjadi lebih mahal.
Dampak yang di timbulkan dari terjadinya Imported inflation,
1. Daya Beli Masyarakat Menurun: Harga barang dan jasa yang semakin mahal dapat membuat
masyarakat kesulitan membeli kebutuhan sehari-hari, terutama jika pendapatan mereka tidak
ikut naik. Akibatnya, kemampuan belanja masyarakat menjadi berkurang.
2. Kegiatan Ekspor Menjadi Terhambat: Naiknya harga bahan baku impor membuat biaya
produksi perusahaan ikut meningkat. Hal ini bisa menyulitkan produsen dalam menghasilkan
barang untuk dijual ke luar negeri sehingga daya saing produk ekspor menjadi melemah.
3. Penambahan Devisa Negara Menjadi Sulit: Menurunnya ekspor serta lemahnya kemampuan
masyarakat dalam membeli barang dapat mempengaruhi pemasukan negara. Akibatnya,
rancangan negara menjadi semakin sulit bertambah.
Tentunya sebagai generasi muda yang sadar akan dampak yang ditimbulkan dari
Imported inflation maka kita juga harus bisa memahami tentang cara cara yang bisa kita
upayakan untuk mencegah hal tersebut di antaranya:
- Meningkatkan produksi barang dalam negeri, terutama kebutuhan pokok, agar tidak terlalu
bergantung pada barang impor. - Membuka lebih banyak lapangan pekerjaan agar kegiatan produksi dalam negeri dapat
berjalan lebih maksimal. - Mendukung dan meningkatkan kemampuan usaha kecil di negeri ini agar lebih produktif
dan berkembang. - Memberikan ruang bagi kreativitas dan inovasi masyarakat sehingga Indonesia dapat
menciptakan lebih banyak produk sendiri tanpa harus banyak mengimpor teknologi atau
barang modern dari luar negeri. - Mengurangi kebiasaan hidup konsumtif dan terlalu mementingkan gaya hidup mewah.
- Pengaturan kebijakan pajak dan impor dengan baik agar harga barang dari luar negeri tetap
terkendali.





