Konflik geopolitik antara Iran melawan United States dan Israel tidak hanya mengguncang pasar global, tetapi juga mulai memberikan dampak nyata terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah memicu lonjakan biaya distribusi, bahan baku, hingga harga kebutuhan pokok yang secara langsung memengaruhi keberlangsungan usaha masyarakat kecil.

Banyak pelaku UMKM di daerah kini menghadapi tekanan kenaikan ongkos operasional, terutama sektor kuliner, perdagangan, transportasi, dan usaha berbasis distribusi barang. Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat kenaikan harga minyak dunia cepat berdampak pada biaya logistik nasional. Ketika biaya transportasi naik, harga bahan baku ikut meningkat sehingga margin keuntungan UMKM menjadi semakin tipis.

Kementerian UMKM bahkan menyebut konflik Iran-AS berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk UMKM karena harga minyak dunia telah melampaui asumsi APBN 2026. Sektor jasa angkutan dan distribusi menjadi yang paling rentan terdampak karena sangat bergantung pada bahan bakar. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen dan menurunkan daya beli masyarakat.

Di daerah seperti Kabupaten Boyolali dan berbagai wilayah lain yang banyak ditopang oleh UMKM sektor makanan, kerajinan, perdagangan kecil, serta usaha rumah tangga, dampak kenaikan biaya distribusi mulai terasa pada harga sembako, gas LPG, hingga bahan baku produksi. Pelaku usaha kecil terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi produksi untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka. Namun di sisi lain, kenaikan harga juga berisiko menurunkan jumlah pembeli karena masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selain persoalan biaya produksi, konflik Timur Tengah juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan distribusi perdagangan internasional. Pemerintah menyebut jalur logistik dunia seperti Selat Hormuz menjadi titik yang sangat vital bagi perdagangan energi global. Jika eskalasi perang semakin meluas, maka biaya impor bahan baku industri dan distribusi barang diperkirakan akan semakin mahal.

Meski demikian, situasi ini juga menjadi pengingat penting bagi UMKM daerah untuk memperkuat pasar lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Penguatan produk lokal, efisiensi distribusi, serta digitalisasi pemasaran dinilai menjadi langkah penting agar UMKM tetap mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Pemerintah pun diharapkan dapat menjaga stabilitas harga energi dan memperluas dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil agar dampak konflik internasional tidak semakin membebani ekonomi masyarakat daerah.