Perkembangan teknologi digital saat ini telah mengubah total cara masyarakat dalam
mengelola keuangan dan beraktivitas sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Salah satu
perubahan paling nyata yang terjadi adalah bagaimana ekosistem digital menggeser metode
pembayaran konvensional ke arah nontunai. Sebagai bagian dari generasi muda yang tumbuh di
era ini, mayoritas dari kita kini sepenuhnya mengandalkan saldo digital untuk bertransaksi dan
jarang membawa uang tunai di dalam dompet. Realitas inilah yang membuat anak muda sangat
bergantung pada keberadaan QRIS atau sistem pembayaran digital ketika ingin membeli sesuatu.
Bagi kami yang terbiasa dengan kepraktisan, ketersediaan metode pembayaran nontunai kini
bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan faktor utama yang menentukan apakah kami
jadi membeli suatu produk atau tidak di sebuah toko.

Secara umum, transisi UMKM ke ranah digital memang memberikan peluang luar biasa
untuk memotong biaya operasional dan memperluas jangkauan pasar. Namun, dalam pandangan
saya, tantangan terbesar di lapangan saat ini justru terletak pada kesenjangan literasi digital yang
cukup masif. Di satu sisi, memang sudah banyak pelaku usaha yang adaptif dengan kemajuan
zaman. Namun di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak pedagang kecil,
seperti kakek-nenek atau lansia, yang belum paham dan kesulitan mengejar akselerasi teknologi
ini. Akibatnya, muncul jurang pemisah yang besar; konsumen muda ingin bertransaksi serba
digital, sementara sebagian pedagang kecil masih bertahan dengan cara lama karena keterbatasan
pemahaman teknologi. Kondisi ini sering kali membuat anak muda terpaksa urung membeli dari
mereka semata-mata karena keterbatasan metode pembayaran.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri yang juga pernah mengelola usaha jualan, perilaku
konsumen muda yang serba digital ini sangat tervalidasi di lapangan. Dari pengamatan saya,
anak-anak muda zaman sekarang sering kali langsung mengurungkan niat belanja mereka jika
tahu sebuah toko tidak bisa menerima pembayaran digital.

Melihat fenomena tersebut, saya beropini bahwa perkembangan UMKM di era digital
tidak akan pernah bisa berjalan optimal jika berjalan sendirian tanpa adanya pendampingan yang