Source: FactSet

Pasar obligasi dunia tengah memanas seiring meningkatnya utang negara-negara global. Fenomena ini turut menyita perhatian para investor dan pemerhati ekonomi karena dapat memberikan efek domino di masa depan. Tidak hanya kenaikan suku bunga dan inflasi, tetapi hutang negara juga sulit segera dibayarkan. Pemerintah pada umunya tidak membayar seluruh utang sekaligus.

Pemerintah akan menerbitkan obligasi atau surat hutang untuk membiayai defisit. Meningkatnya penerbitan obligasi pemerintah untuk membiayai defisit dapat meningkatkan permintaan dana di pasar keuangan. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut mendorong adanya crowding out effect, sebuah fenomena yang menggambarkan bahwa pemerintah sedang gencar-gencarnya mencari pendanaan lewat penerbitan surat berharga. Kondisi ini dipercaya bisa melemahkan dunia usaha karena kenaikan penerbitan obligasi akan dibarengi dengan kenaikan imbal hasil (yield).

Masyarakat akan cenderung menahan surat berharga tersebut ketimbang menabungnya di bank sehingga jumlah pasokan uang di bank akan berkurang dan akan berpengaruh pada jumlah pinjaman ke sektor usaha. Efek domino lainnya yaitu kenaikan suku bunga simpanan yang akan meningkatkan biaya peminjaman kredit usaha. Selain itu, biaya pemerintah dan perusahaan untuk berutang ikut meningkat. Jadi, masalahnya buka hanya investor obligasi yang rugi, tetapi kenaikan yield bisa merembet ke biaya kredit perusahaan, pembiayaan pemerintah, investasi, pasar saham, hingga konsumsi masyarakat.

Steve Boothe, manajer portofolio dan kepala obligasi peringkat investasi global, menyatakan bahwa di pasar obligasi AS, imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun naik di atas 5,31% pada akhir Juni, level tertinggi dalam hampir dua dekade. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman 30 tahun mencapai 3,75% untuk pertama kalinya sejak 2011, biaya pinjaman Prancis mencapai puncak yang terakhir terlihat pada tahun 2008, dan obligasi pemerintah Inggris 30 tahun mendekati puncaknya pada bulan Mei sebesar 5,85%, level tertinggi sejak 1998. Di Jepang, imbal hasil obligasi dengan jatuh tempo yang sama mendekati rekor tertinggi sepanjang masa.

Data tersebut menunjukkan kenaikan yield tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi merupakan fenomena yang meluas di pasar obligasi negara maju. Jika tekanan terhadap pasar obligasi terus berlanjut, investor dapat melakukan penyesuaian portofolio dengan mempertimbangkan kembali risiko dan imbal hasil obligasi yang dimiliki. Di sisi lain, kenaikan yield membuat biaya pembiayaan pemerintah semakin meningkat.