Konflik geopolitik antara Iran melawan United States dan Israel mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat Indonesia. Salah satu yang paling dirasakan pelaku usaha kecil adalah melonjaknya harga plastik dan kemasan sejak akhir Februari 2026. Kenaikan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah memicu terganggunya pasokan bahan baku petrokimia global yang menjadi komponen utama industri plastik. (suara.com)

Kenaikan harga plastik mulai terasa setelah serangan awal konflik pecah pada 28 Februari 2026. Namun lonjakan terbesar terjadi pada awal hingga pertengahan April 2026 ketika harga minyak dunia terus meningkat dan distribusi global terganggu akibat ketegangan di Selat Hormuz. Sejumlah pedagang mengaku harga kantong plastik, gelas plastik, hingga kemasan makanan naik antara 30 persen hingga 80 persen dalam waktu singkat. Bahkan beberapa jenis kemasan mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dibandingkan harga normal. (asatunews.co.id)

Kondisi ini paling memukul pelaku UMKM sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk operasional sehari-hari. Banyak pedagang kecil terpaksa menaikkan harga jual produk karena biaya produksi meningkat, sementara sebagian lainnya memilih mengurangi ukuran kemasan untuk menjaga daya beli konsumen. Kenaikan harga plastik juga berdampak pada usaha minuman kekinian, pedagang pasar, katering rumahan, hingga industri kecil pengolahan makanan di daerah.

Selain dipicu kenaikan harga minyak dunia, gangguan pasokan bahan baku plastik seperti nafta dan resin impor turut memperburuk kondisi pasar. Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap bahan baku industri petrokimia global sehingga gejolak internasional cepat memengaruhi harga domestik. Ancaman gangguan jalur perdagangan energi dunia membuat biaya distribusi dan impor bahan baku ikut meningkat dalam beberapa pekan terakhir. (amp.kompas.com)

Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah stabilisasi agar kenaikan harga bahan baku tidak semakin membebani UMKM. Di tengah ketidakpastian global, dukungan terhadap industri lokal dan penguatan produksi bahan baku dalam negeri dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak konflik internasional terhadap ekonomi masyarakat kecil.