Memanasnya konflik geopolitik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kembali mengguncang pasar keuangan global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan ancaman terhadap jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz, membuat investor mulai mengalihkan dana ke sektor-sektor yang dinilai paling diuntungkan dari situasi perang. Dalam kondisi seperti ini, saham berbasis energi, emas, hingga pelayaran energi menjadi sektor yang paling berpotensi mengalami penguatan signifikan.
Sektor energi menjadi yang paling mendapat sorotan karena konflik Timur Tengah hampir selalu diikuti kenaikan harga minyak dunia. Kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global membuat harga crude oil melonjak dan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan migas. Di Bursa Efek Indonesia, saham seperti MEDC, PGAS, ELSA, hingga AKRA diperkirakan menjadi emiten yang paling diuntungkan apabila eskalasi konflik terus meningkat. Medco Energi misalnya, memiliki sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga minyak sehingga potensi peningkatan pendapatan dan laba perusahaan menjadi lebih besar ketika harga energi naik.
Selain energi, saham berbasis emas juga berpotensi menjadi tujuan utama investor. Dalam situasi perang dan ketidakpastian global, emas dikenal sebagai aset safe haven yang paling dicari. Kenaikan harga emas dunia biasanya langsung berdampak positif terhadap emiten tambang emas di Indonesia seperti ANTM, MDKA, BRMS, dan PSAB. Investor cenderung memindahkan dana dari aset berisiko ke emas untuk menjaga nilai investasinya di tengah tekanan geopolitik global.
Tidak hanya itu, sektor pelayaran energi juga berpeluang menikmati sentimen positif. Ancaman gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz berpotensi meningkatkan tarif pengiriman tanker minyak dunia. Kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan pelayaran energi dan logistik yang bergerak di sektor distribusi bahan bakar dan migas. Beberapa saham seperti HATM, SHIP, dan TCPI diperkirakan dapat memperoleh momentum positif apabila konflik menyebabkan gangguan jalur perdagangan internasional.
Di pasar global, perusahaan pertahanan dan industri militer juga biasanya mengalami kenaikan harga saham ketika perang pecah. Emiten seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, hingga RTX Corporation sering menjadi incaran investor karena meningkatnya kebutuhan persenjataan, sistem pertahanan udara, hingga teknologi militer selama konflik berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga industri pertahanan dunia.
Meski demikian, konflik geopolitik tidak selalu membawa keuntungan bagi seluruh sektor. Saham transportasi, aviasi, konsumsi non-primer, serta perusahaan dengan beban utang dolar besar justru berpotensi mengalami tekanan akibat kenaikan harga energi dan pelemahan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, investor perlu mencermati arah perkembangan konflik secara hati-hati agar dapat mengambil posisi investasi yang tepat di tengah volatilitas pasar global.





