Tanpa disadari, banyak dari kita menjalani pekerjaan yang terasa hampa dan membosankan. Perkembangan dunia industri terus memengaruhi cara manusia memandang pekerjaan, dan perubahan itu bisa ditarik jauh ke belakang—ke revolusi industri pertama pada abad ke-18. Salah satu penandanya adalah power loom, alat tenun mekanis rancangan Edmund Cartwright yang mulai dikembangkan pada 1784 dan dipatenkan setahun kemudian. Awalnya alat ini digerakkan tenaga manusia; baru pada 1789 Cartwright menghubungkannya dengan mesin uap. Sejak itu, tenaga hewan dan manusia perlahan tergeser oleh teknologi yang lebih praktis dan efisien.
Revolusi industri terus berkembang hingga memasuki konsep industri 5.0 di abad ke-21, yang mengintegrasikan kembali peran manusia ke dalam berbagai teknologi. Perkembangan inilah yang melahirkan jenis-jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Fenomena ini sebenarnya pernah diramalkan John Maynard Keynes jauh sebelum era digital. Dalam esainya tahun 1930, Economic Possibilities for our Grandchildren, ia memprediksi bahwa seratus tahun kemudian—tahun 2030—kemajuan teknologi akan begitu pesat sehingga masyarakat di negara-negara maju seperti Inggris atau Amerika Serikat cukup bekerja lima belas jam saja dalam sepekan.
Empat tahun menjelang tenggat waktu itu, prediksi Keynes terbukti separuh benar. Produktivitas dan kesejahteraan memang melonjak jauh melampaui bayangannya. Tapi jam kerja tidak ikut menyusut. David Graeber, dalam Bullshit Jobs, punya jawaban untuk paradoks ini: Keynes tidak memperhitungkan lonjakan konsumerisme. Ketika dihadapkan pada pilihan antara bekerja lebih sedikit atau memiliki lebih banyak barang, manusia secara kolektif justru memilih yang kedua. Bukan berarti ini sepenuhnya rasional, tapi begitulah yang terjadi.
Konsekuensinya bisa dilihat dari struktur pekerjaan itu sendiri. Banyak pekerjaan produktif kehilangan ruang karena tergantikan mesin, sementara pekerjaan profesional, manajerial, dan administratif justru makin diminati karena dianggap lebih fleksibel. Data Badan Pusat Statistik Februari 2025 menunjukkan 66,19% penduduk bekerja di Indonesia adalah pekerja penuh waktu—bekerja setidaknya 35 jam per minggu. Alih-alih jam kerja menyusut seperti prediksi Keynes, yang terjadi justru sebaliknya: mayoritas masyarakat tetap terikat pada jam kerja penuh, sementara jenis pekerjaannya bergeser ke sektor yang menurut Graeber paling rawan menjadi “omong kosong” posisi administratif dan manajerial yang, oleh pekerjanya sendiri, kerap dianggap tidak benar-benar diperlukan.
Di sinilah kritik Graeber menemukan relevansinya. Ia menuding ada pekerjaan yang sengaja diciptakan bukan untuk menghasilkan nilai, melainkan sekadar untuk menjaga orang tetap sibuk, dan tetap bekerja. Fenomena ini mengajak kita mempertanyakan ulang apa yang sebenarnya kita kejar dari sebuah pekerjaan: sekadar penghasilan, atau kontribusi yang benar-benar bisa dirasakan orang lain?
Pertanyaan itu mungkin tidak punya jawaban tunggal. Tapi satu hal terlihat jelas: gap antara janji teknologi dan kenyataan jam kerja bukan soal teknologi yang gagal, melainkan soal pilihan kolektif yang terus kita ulangi. Selama produktivitas yang meningkat lebih sering diterjemahkan menjadi konsumsi, bukan waktu luang, prediksi Keynes akan terus meleset bukan karena salah hitung, tapi karena manusia memang memilih jalan lain.
Oleh : Tria Putri Wulandari
Editor : Irfan Nurkholis





