Pasar saham Indonesia pada akhir tahun 2025 diramaikan oleh dua saham IPO yang cukup menyita perhatian investor, yaitu saham RLCO dan SUPA. Kedua emiten ini berhasil menciptakan antusiasme tinggi di pasar, terutama pada masa awal pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena lonjakan harga hingga berulang kali menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) membuat keduanya menjadi perbincangan hangat di kalangan trader maupun investor ritel.
IPO RLCO Jadi Sorotan Pasar
Saham RLCO milik PT Abadi Lestari Indonesia Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Desember 2025 dengan harga IPO sebesar Rp168 per saham. Harga tersebut berada di batas atas penawaran awal dan membuat perseroan berhasil menghimpun dana sekitar Rp105 miliar dari pelepasan 625 juta saham ke publik.
Sejak hari pertama perdagangan, saham RLCO langsung menunjukkan performa yang sangat agresif. Tingginya minat beli investor membuat saham ini berkali-kali menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA). Bahkan hingga akhir Desember 2025, RLCO tercatat telah mengalami 12 kali ARA sejak debutnya di bursa.
Pada penutupan perdagangan akhir tahun 2025, harga saham RLCO berhasil melonjak hingga Rp1.765 per saham. Artinya, saham ini telah naik sekitar 950% dibanding harga IPO hanya dalam waktu kurang dari satu bulan perdagangan.
Kenaikan yang sangat signifikan tersebut menjadikan RLCO sebagai salah satu saham IPO dengan performa paling mencolok di penghujung tahun 2025. Tingginya antusiasme pasar dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari jumlah saham beredar yang relatif terbatas (limited float), tingginya minat investor ritel, hingga sentimen spekulatif yang kuat pada saham IPO baru.
SUPA Tampil Stabil dengan Dukungan Nama Besar
Sementara itu, saham SUPA atau PT Super Bank Indonesia Tbk juga menjadi salah satu IPO yang paling dinantikan pasar pada akhir 2025. Bank digital yang didukung Grup Emtek dan Grab ini menetapkan harga IPO sebesar Rp635 per saham setelah melalui masa bookbuilding pada kisaran Rp525–Rp695.
Melalui IPO tersebut, SUPA berhasil menghimpun dana sekitar Rp2,79 triliun dari pelepasan 4,4 miliar saham kepada publik.
Berbeda dengan RLCO yang bergerak sangat agresif, pergerakan saham SUPA cenderung lebih stabil meskipun tetap mendapat perhatian besar dari investor. Berdasarkan data perdagangan akhir tahun 2025, saham SUPA sempat menyentuh area Rp860 per saham, atau naik sekitar 35% dari harga IPO-nya.
Meski tidak seagresif RLCO, saham SUPA tetap menarik karena didukung oleh sektor digital banking yang masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang di Indonesia. Selain itu, nama besar investor strategis di belakang perusahaan menjadi salah satu alasan kuat tingginya minat pasar terhadap saham ini.
Fenomena ARA dan Euforia IPO Akhir Tahun
Fenomena saham IPO yang mengalami ARA berkali-kali memang menjadi tren di pasar modal Indonesia sepanjang 2025. Banyak investor ritel memanfaatkan momentum IPO sebagai peluang mendapatkan keuntungan cepat dalam jangka pendek.
Diskusi di komunitas investor dan forum saham bahkan menunjukkan tingginya ekspektasi pasar terhadap potensi ARA saham RLCO maupun SUPA sejak sebelum listing.
Namun, analis pasar mengingatkan bahwa lonjakan harga saham IPO dalam waktu singkat umumnya lebih dipengaruhi oleh sentimen dan psikologi pasar dibanding fundamental perusahaan. Saham yang mengalami kenaikan ekstrem juga memiliki risiko koreksi yang tinggi ketika euforia pasar mulai mereda.
Analisis Sederhana: RLCO Lebih Spekulatif, SUPA Lebih Fundamental
Secara sederhana, karakter pergerakan kedua saham ini cukup berbeda.
RLCO lebih mencerminkan saham IPO dengan pola spekulatif tinggi. Kenaikan harga yang sangat cepat didorong oleh minimnya saham beredar di pasar serta tingginya aksi beli investor ritel. Kondisi ini membuat pergerakan saham menjadi sangat volatil namun juga berisiko tinggi.
Di sisi lain, SUPA cenderung dipandang sebagai saham dengan pendekatan yang lebih fundamental. Meski kenaikannya tidak seekstrem RLCO, SUPA memiliki daya tarik dari sisi bisnis digital banking dan dukungan ekosistem besar seperti Emtek dan Grab.
Bagi investor, fenomena IPO akhir 2025 ini menjadi pelajaran penting bahwa saham IPO memang dapat memberikan potensi keuntungan besar dalam waktu singkat, tetapi tetap harus disertai manajemen risiko dan analisis yang matang sebelum mengambil keputusan investasi.





